Renungan Beata Clara Fey
Santo Yosef dalam Gereja
Membicarakan St. Yosef tidak akan ada habisnya, karena banyaknya sisi-sisi yang bisa kita lihat. Karena itu, tulisan ini hanya ingin menyoroti peran penting St. Yosef bagi Kongregasi Sang Timur. Untuk itu lebih dahulu kita akan melihat sekilas siapa St. Yosef sejauh dikenal dalam Gereja dan Kitab Suci.
Kitab Suci tidak banyak mencatat tentang Yosef, dan tidak satu katapun diucapkan oleh santo Yosef. Data yang tersaji dalam Kitab Suci tentang Santo Yosef begitu minim. Dia pribadi tersembunyi bagi banyak orang. Namun, perannya dalam sejarah iman kita tidak dapat dikubur. Menguburkan perannya sama artinya dengan menyangkal realita keselamatan Allah lewat Yesus. Riwayat hidupnya tidak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan Yosef meninggal sebelum Yesus tampil di depan umum.

Injil menyebut bahwa Yosef adalah suami Maria dan bapak dari Yesus. Kebapakannya memang bukan dalam arti fisik, namun lebih dihubungkan dengan peran rohaninya bagi Yesus terkait dengan kewibawaannya dan pelayanannya. Yesus termasuk anggota keluarga Yosef. Dialah Bapak Sah yang memelihara Yesus. Dialah keturunan Daud dan Tukang kayu yang menyelamatkan Maria dan Yesus dari pelbagai ancaman. Dia juga adalah seorang beriman yang tulus hati.
Selain sebagai pribadi yang yang tulus hati, dia juga seorang pendidik. Yosef tidak menyerahkan pendidikan anaknya hanya kepada Maria, istrinya. Kiranya Yosef bisa menjadi inspirasi bagi para bapak/suami di segala zaman akan pentingnya tanggungjawab penuh terhadap pendidikan anak. Injil menyebutkan: “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dicintai oleh Allah dan manusia” (Luk 2: 52). “Darimana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu ?…Bukankah Ia, anak Tukang kayu, anak Maria,… ” (Mrk 6: 3).
Devosi kepada Santo Yosef tidak dikenal di dalam Gereja selama berabad-abad. Hal ini dilatarbelakangi kekhawatiran kalau Yosef diberi perhatian berlebihan dapat menimbulkan anggapan bahwa Yusuf adalah ayah kandung Yesus. Sekarang Gereja menghormati Yosef terkait dengan kedudukannya sebagai suami Maria, Bunda Yesus, Putera Allah. Pada 8 Desember 1870 Paus Pius IX (1846 – 1878) menetapkan Yosef sebagai pelindung Gereja Universal. Dalam litani Santo Yosef, ia disebutkan sebagai pelindung bagi para buruh/karyawan, keluarga, para perawan, orang-orang sakit, dan orang-orang yang berada dalam sakrat maut sehingga orang dapat mati bahagia. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapa-bapa keluarga, imam-imam, dan kaum religius, serta pelindung para peziarah.
Pada tahun 1937, Sri Paus Pius XI (1922 – 1939) mengangkat Santo Yosef sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik. Tahun 1961, Sri Paus Yohanes XXIII (1958 – 1963) memilih Yosef sebagai pelindung surgawi. Dalam Konsili Vatikan II. Nama Yosef sendiri mulai dimasukkan dalam Kanon Misa pada tahun 1962.
Pada abad ke delapan dan sembilan, tanggal 19 Maret ditetapkan sebagai Hari Raya Santo Yosef. Pada tahun 1955, Sri Paus Pius XII (1939 – 1958) memaklumkan pesta Santo Yosef Pekerja yang dirayakan pada setiap 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yosef pekerja dan untuk menyatakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya keselamatan Allah (Lih. Willem Daia, Pr, Carilah St. Yosef !, Yayasan Pustaka Nusantara, 2005.)
Peran Santo Yosef bagi Kongregasi Suster Sang Timur
Selain berdevosi kepada Bunda Maria dan Kanak Yesus yang Miskin, Ibu Clara juga berdevosi kepada Bapa Yosef, pemelihara Yesus. Dia sendiri dan seluruh kongregasi kerap kali mengalami kekuasaan dan perlindungannya. Kongregasi Sang Timur menjadikan St. Yosef tidak hanya sebagai pelindung kongregasi tetapi juga pelindung rohani para suster. Bahwa St. Yosef menjadi pelindung utama Kongregasi tercantum dalam Regula. Dalam Pedoman Hidup Para Suster Sang Timur tertulis tentang St. Yosef: “Ibu Clara telah mempercayakan Kongregasi kepada perlindungan istimewa Santo Yosef. Kita pun menghormati dan mengikuti teladannya: hidup terarah kepada Tuhan dan hidup dalam ketaatan”. (PH No. 79 )
Santo Yosef menggendong Yesus
Dalam sejarah dialami banyak pertolongan dan perlindungan St. Yosef bagi kongregasi terhadap kehancuran dan keputusasaan, saat mengalami penolakan dan pengusiran, serta ketika hidup dalam kesulitan dan kekurangan. Ketika Ibu Clara memutuskan untuk mendirikan Kongregasi, ia terkesan pada teladan Santa Teresia Avila yang menyerahkan kesuksesan rencananya dalam perlindungan Santo Yosef. Kata Santa Teresia Avila:”Setiap tahun pada hari pestanya selalu kumohon rahmat khusus dan pasti dikabulkan”.
Ia berjanji bahwa pendirian kapel pertama akan dipersembahkan kepada Santo Yosef dan setiap hari didoakan litani untuk menghormatinya. Ibu Clara biasa berpuasa setiap hari Rabu untuk menghormati Santo Yosef. Ternyata Santo Yosef senantiasa setia menolongnya. Bantuan Santo Yosef dialami oleh Kongregasi pada masa sulit di awal tahun-tahun pertama. Bahwa Ibu Clara menempatkan St. Yosef sebagai pelindung Kongregasi antara lain tampak pada pengalaman beliau pada pesta Santo Yosef tahun 1855. Saat itu Ibu Clara sedang dalam perjalanan, lalu ia memanjatkan sebuah doa di depan patung St. Yosef . Dengan penuh iman ia mohon perlindungannya:
“Saya mohon, semoga doaku di biara induk kau terima. Engkau tahu Kongregasi kecil ini menjadi seperti sekarang ini berkat perlindunganmu dan berkembang bersama jiwaku yang lemah. Aku berdoa bagi persekutuan ini: lindungilah dan berkatilah dia; jadikanlah dia berkenan kepada Allah. Engkau senantiasa dekat dengan Allah, Ia menyebutmu bapa. Mohonlah bagi para susterku terkasih kesalehan yang benar; berilah mereka kesetiaan yang besar, kelembutan hati, suara hati yang murni, kerendahan hati, dan kasih yang benar. Tunjukkanlah jalan agar kami semua berjalan menuju kesempurnaan dan tidak menjadi lesu di perjalanan. Tidak dapatkah engkau menguduskan kami semua? Terimalah kami dalam perlindunganmu. Bawalah kami semua ke dalam hatimu dan biarkanlah kami semua masuk dalam Hati Yesus dan Hati Maria”.
Ketika Ibu Clara memberi konferensi tentang Klausura dibuatnya persamaan. Di Kongregasi dikenal:”Klausura yang aman ialah mantel pelindung St. Yosef. Orang jujur yang sangat rendah hati, yang menerima tugas sebagai bapa sabda kekal Allah Bapa. Ibu-Nya yang tetap perawan dilindungi dan dipeliharanya selama hidup di dunia. Sungguh suatu panggilan khusus: bertugas menjaga semua yang setia berlindung di mantelnya, yaitu mereka yang mengabdi dan mengikuti Yesus dan Maria. Berbahagialah jiwa yang menemukan tempat dalam mantel ini. Ia berjumpa dengan Tuhan dan ibu-Nya yang suci, berada di hadirat-Nya dan mesra bersama mereka. Demi mantel ini musuh ingin mengusir damai di hati kita. Larilah dan bersembunyilah di dalam mantel, jika kita ingin memiliki hidup batin yang damai. Mantel ini luas dan besar. Ada cukup tempat untuk Anda semua. Dia akan menghangatkan dan menaungi Anda sekalian dari badai pencobaan”. Mantel pelindung St. Yosef menjadi semboyan Kongregasi yang berulang kali dipakai baik dalam surat Ibu Clara maupun suster lain. Kesulitan terbesar yang dialami di Wina pun secara khusus diserahkan pada perlindungan St. Yosef.
Ada juga peristiwa menarik yang dialami oleh seorang anak yatim piatu protestan di Keulen. Ia ingin menjadi katolik karena sangat menghormati St. Yosef. Namun, karena usianya belum empatbelas tahun, para suster belum berani membaptisnya. Menurut hukum, pindah agama pada usia itu belum diperbolehkan. Januari 1866 anak itu sakit parah dan ia memohon agar dijemput St. Yosef. Permohonannya terkabul, karena sebelum kematiannya dia berseru dengan gembira bahwa St. Yosef datang menjemputnya. Para suster menyaksikan lebih dari seperempat jam dia berbicara dengan St. Yosef.
Dengan kejadian ini, Ibu Clara mengajak dan mendorong para susternya untuk makin menghormati St. Yosef. Sejak awal setiap tanggal 19 Maret dipilih menjadi hari untuk membaharui kaul. Tahun 1866 Kongregasi mendapat izin khusus mentahtakan Sakramen Mahakudus sepanjang hari. Pada tahun sebelumnya, Kongregasi mendapat banyak cobaan, namun para suster mengalami kuasa perlindungannya. Pada awal novena St. Yosef 9 Maret 1867, Ibu Clara berkata, “Bapa Yosef yang baik terkadang bekerja amat perlahan, namun pasti”. Beberapa kali pada masa penganiayaan yang pahit dan tanpa harapan, tiba-tiba ia menunjukkan jalan keluar. 30 Januari 1875 dengan kepercayaan teguh Ibu Clara berkata, “Sesuai kesepakatan, besok pagi kita mulai kebaktian 30 hari lamanya untuk menghormati bapa Yosef. Yakinlah dia tidak akan menolak, namun hal itu juga tergantung sepenuhnya pada doa dan kepercayaan kita. Kita berseru mohon bantuan kepada Bapa Yosef yang setia agar dia melengkapi apa yang kurang pada kita. Santo Yosef sampai sekarang tidak pernah menelantarkan kita. Maka, datanglah selalu kepadanya dan berkatalah dalam hati: dia tidak akan menelantarkan kita”.
Ibu Clara mengajak kita untuk sungguh berterima kasih atas semua kebaikan yang telah kita terima. 19 Mei 1785 ia menulis: “Dia sering kali menolong kita, khususnya akhir-akhir ini. Baru minggu yang lalu permohonan kita dikabulkan. Kita tidak mohon agar dapat mempertahankan barang duniawi. Permintaan seperti itu tidak layak bagi kita, namun kita mohon semoga mereka tidak mengganggu kita dan bapa yang baik itu mengabulkan permohonan itu”.
Sekarang jelas apa peran Santo Yosef bagi Kongregasi dan kita para pengikut Ibu Clara. Selain meneladan hidupnya, kita juga setiap kali memohon bantuan perlindungannya bagi hidup rohani kita, maupun perlindungannya dalam melaksanakan karya kongregasi. Perlindungan St. Yosef tidak dapat diragukan. Dalam sejarah kongregasi ia selalu menjaga dan mengurus segala keperluan Kongregasi setiap kali Ibu Clara dan para suster menyerahkan diri kepada perlindungan dan pertolongannya.
