Refleksi Sr. Eris PIJ
Dengan hati yang penuh syukur, saya menatap kembali perjalanan panggilan hidup yang Tuhan anugerahkan kepada saya. Panggilan ini bukan lahir dari kemampuan atau rencana pribadi, melainkan dari kasih Allah yang lebih dahulu memilih, memanggil, dan menuntun saya. Sejak saya melangkahkan kaki masuk biara pada tanggal 13 Juni 2016 dan menjadi bagian dari Kongregasi Sang Timur, hidup saya perlahan dibentuk melalui proses yang panjang, sunyi, dan penuh rahmat sebuah perjalanan langkah kecil menuju kekal. Dalam terang spiritualitas Kongregasi Sang Timur, Manete in Me “tinggallah di dalam Aku”, saya semakin menyadari bahwa inti dari panggilan hidup membiara bukan pertama-tama tentang apa yang saya kerjakan, melainkan tentang tinggal dan berakar dalam Kristus. Tinggal di dalam Dia berarti membiarkan seluruh hidup doa, karya, relasi, kelemahan, dan pergulatan menjadi ruang perjumpaan dengan Allah yang hidup.
Perjalanan panggilan ini saya jalani melalui tahap-tahap pembinaan mulai dari masa aspiran, postulat, novisiat, hingga masa yunior yang kini saya hidupi. Pada masa aspiran, saya belajar mendengarkan suara Tuhan dalam kesederhanaan hidup sehari-hari. Masa postulat menantang saya untuk semakin jujur melihat diri, mengolah niat, dan belajar hidup bersama. Dalam novisiat, saya dibentuk untuk semakin sungguh tinggal di dalam Kristus melalui doa, keheningan, ketaatan, dan penyerahan diri. Semua proses ini tidak selalu mudah, ada jatuh dan bangun, ada air mata, kelelahan, dan keraguan. Namun justru di sanalah saya mengalami kesetiaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya.
Memasuki masa yuniorat, saya semakin dihadapkan pada realitas hidup membiara yang konkret. Hidup bersama di berbagai komunitas dengan dinamika yang beragam menolong saya untuk belajar mencintai secara nyata, menerima perbedaan, dan setia dalam hal-hal kecil. Dalam tugas karya, saya belajar bahwa perutusan bukan tentang prestasi, melainkan tentang menghadirkan kasih Allah melalui kehadiran yang sederhana dan setia. Di tengah semua itu, saya belajar bahwa hanya dengan tinggal di dalam Kristus, saya dapat tetap bertahan, bertumbuh, dan berbuah.
Dalam dicermen ini, saya juga diajak untuk berhadapan dengan kenyataan hidup yang paling mendasar, yaitu kematian. Ketika diminta untuk membuat peti jenazah dan batu nisan sendiri, awalnya muncul rasa takut dan gentar. Namun melalui permenungan yang mendalam, saya disadarkan bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Pada batu nisan itu, saya menuliskan sabda Kitab Suci“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” (2 Tim 4:7). Ayat ini menjadi doa dan arah hidup saya, bukan tentang panjangnya perjalanan, melainkan tentang kesetiaan sampai akhir, dalam iman yang terpelihara.
Teladan Beata Clara Fey, semakin meneguhkan langkah saya. Dalam hidupnya, saya belajar tentang kesetiaan yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Allah, tentang keberanian untuk tinggal di dalam Kristus meskipun harus melewati penderitaan, keterbatasan, dan ketidakpastian. Warisan rohani beliau semangat penyerahan diri, cinta pada yang kecil dan miskin, serta kepekaan terhadap kebutuhan anak-anak dan kaum muda menjadi cahaya yang terus membimbing saya dalam menghayati panggilan ini. Sebagai anggota Kongregasi Sang Timur, saya diundang untuk menghidupi visi bersatu dengan Allah, dan melaksanakan misi mengantar anak-anak miskin dan kaum muda kepada Tuhan. Dalam terang visi dan misi ini, saya menyadari bahwa panggilan hidup saya menemukan maknanya bukan pada diri saya sendiri, melainkan pada Allah yang saya cintai dan pada mereka yang saya layani. Tinggal di dalam Kristus berarti menghadirkan kasih-Nya secara nyata, terutama bagi mereka yang kecil, rapuh, dan membutuhkan pendampingan.
Kini pada masa yunior tahun keenam, dicermen ini menjadi saat rahmat untuk berhenti, menimbang, dan mengambil keputusan dengan kesadaran penuh. Saya menyadari bahwa kaul kekal bukanlah sebuah lompatan besar yang tiba-tiba, melainkan buah dari kesetiaan dalam langkah-langkah kecil yang dihidupi setiap hari. Dengan bersandar pada moto hidup saya“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, saya diteguhkan untuk melangkah maju dengan iman, keberanian yang rendah hati, dan penyerahan diri yang semakin utuh.
Dengan penuh syukur, saya menyerahkan perjalanan hidup ini ke dalam tangan Tuhan. Dalam semangat Manete in Me, saya ingin terus tinggal di dalam Kristus, dibentuk oleh-Nya, dan diutus oleh-Nya, hingga seluruh hidup saya menjadi pujian bagi kemuliaan Allah dan berkat bagi anak-anak miskin serta kaum muda yang dipercayakan kepada Kongregasi.“Inilah aku, Tuhan. Dalam langkah-langkah kecil yang Kau tuntun, izinkan aku tinggal di dalam-Mu dan melangkah setia menuju kekal.”Amin.
